What I Want To Share

0
Comment
Kisah Nabi Saleh AS


Berlalulah hari demi hari. Lahirlah sebagian pria dan matilah sebagian yang lain. Setelah kaum ‘Ad, datanglah kaum Tsamud. Lagi-lagi azab berulang kepada kaum Tsamud dalam bentuk yang lain. Kaum Tsamud juga menyembah berhala kemudian Allah SWT mengutus Nabi Saleh kepada mereka. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:

“Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada Tuhan lain bagi kalian selain-Nya. ” (QS. Hud: 61)

Kalimat yang sama yang disampaikan oleh setiap nabi, dan kalimat tersebut tidak pernah berubah sebagaimana kebenaran tidak pernah berubah. Para pembesar kaum Nabi Saleh terkejut dengan apa yang dikatakannya. Beliau menyatakan bahwa tuhan mereka tidak memiliki nilai yang berarti. Beliau melarang mereka untuk menyembahnya dan memerintahkan mereka hanya menyembah Allah SWT.

Dakwah Nabi Saleh cukup menggoncangkan masyarakat. Nabi Saleh terkenal dengan kejujuran dan kebaikan. Kaumnya sangat menghormatinya sebelum Allah SWT mengutusnya dan memberikan wahyu padanya untuk berdakwah kepada mereka. Kaum Nabi Saleh berkata:

“Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesung­guhnya kami betul-betul dalam keraguan yang mengelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. ” (QS. Hud: 62)

Renungkanlah bagaimana pandangan orang-orang kafir dari kaum Nabi Saleh: “Sesungguhnya engkau sangat kami harapkan karena kaluasan ilmumu, kematangan akalmu, kejujuranmu dan kebaikanmu. Kemudian hilanglah harapan kami terhadapmu. Apakah engkau akan melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh kakek-kakek kami. Alangkah celakanya! Kami tidak berharap engkau mencela tuhan-tuhan kami yang kami mendapati orang tua-orang tua kami menyembahnya.”

Demikianlah kaum Nabi Saleh merasa bingung di hadapan kebenaran dan mereka heran terhadap saudara mereka Saleh yang mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki alasan dan pemikiran yang benar. Mereka hanya beralasan bahwa kakek-kakek mereka menyembah tuhan-tuhan ini. Demikianlah taklid yang menyebabkan manusia ter-jerumus dalam kesesatan. Dan Nabi datang untuk menghilangkan taklid buta ini. Akidah tauhid disebarkan sebagai dakwah untuk membebaskan pikiran dari segala belenggu, yaitu suatu dakwah yang membebaskan akal manusia dari belenggu taklid, khurafat orang-orang dulu, dan khayalan tradisi yang mapan. Inilah dakwah tauhid yang menyuarakan kebebasan akal dan segala bentuk kebebasan lainnya.

Dakwah tersebut tidak akan ditentang kecuali oleh orang-orang yang akalnya terpasung oleh pemikiran orang-orang dulu dan khayalan orang-orang tua. Meskipun dakwah Nabi Saleh disampaikan dengan penuh ketulusan, namun kaumnya tidak mempercayainya. Mereka justru meragukan dakwahnya. Mereka mengira bahwa Nabi Saleh tersihir. Mereka meminta kepadanya agar ia mendatangkan mukjizat ynag membuktikan bahwa ia memang utusan Allah SWT. Allah SWT berkehendak untuk mengabulkan permintaan mereka. Kaum Tsamud mengukir rumah-rumah besar dari gunung. Mereka menggunakan batu-batu besar untuk membangun. Mereka adalah orang-orang yang kuat yang Allah SWT membuka pintu rezeki bagi mereka dari segala hal. Mereka datang setelah kaum ‘Ad lalu mereka tinggal di bumi dan memakmurkannya. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya ketika mereka meminta mukjizat kepadanya:

“Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.” (QS. Hud: 64)

Yang dimaksud ayat dalam surah tersebut adalah mukjizat. Diriwayatkan bahwa unta itu merupakan mukjizat karena batu gunung pada suatu hari terpecah dan keluar darinya unta, dan keluar di belakangnya anaknya yang kecil. la lahir melalui cara yang tidak umum dalam proses kelahiran. Diriwayatkan juga bahwa ia merupakan mukjizat karena ia minum air yang terdapat di sumur-sumur pada suatu hari lalu binatang-binatang yang lain tidak berani mendekati air itu pada hari tersebut. Ada riwayat lain mengatakan bahwa ia merupakan mukjizat karena ia mengeluarkan susu yang mencukupi untuk dipakai minum oleh seluruh manusia di hari di mana ia minum seluruh air sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa darinya. Unta ini merupakan mukjizat di mana Allah SWT menyifatinya dengan sebutan: “naqatullah” (unta Allah). Itu berarti bahwa unta tersebut bukan unta biasa, namun ia merupakkan mukjizat dari Allah SWT. Allah SWT menurunkan perintah kepada Nabi Saleh agar beliau melarang kaumnya untuk mengganggunya atau membunuhnya. Beliau memerintahkan mereka untuk membiarkannya, makan di bumi Allah SWT dan tidak menyakitinya. Beliau mengingatkan mereka bahwa ketika mereka mencoba untuk mengganggunya, maka mereka akan mendapatkan siksaan dalam waktu dekat.

Mula-mula kaum Tsamud sangat terheran-heran ketika melihat unta lahir dari batu-batuan gunung. Ia adalah unta yang diberkati di mana susunya cukup untuk ribuan laki-laki, wanita, dan anak-anak kecil. Jika unta itu tidur di suatu tempat, maka binatang-binatang lain akan menyingkir darinya. Jelas sekali ia bukan unta biasa, namun ia merupakan tanda-tanda kebesaran dari Allah SWT. Unta itu hidup di tengah-tengah kaum Nabi Saleh. Berimanlah orang-orang yang beriman di antara mereka dan sebagian besar mereka tetap berada dalam penentangan dan kekafiran. Kebencian terhadap Nabi Saleh berubah menjadi kebencian kepada unta yang diberkati itu. Mulailah mereka membikin persekongkolan untuk melawan unta itu. Orang-orang kafir sangat membenci mukjizat yang agung ini dan mereka membuat rencana jahat untuk melenyapkannya. Sebagaimana biasanya, para tokoh-tokoh kaumnya berkumpul untuk membuat, makar. Allah SWT berfirman:

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: ‘Hat kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah;, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: ‘Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya ?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Saleh diutus untuk menyampaikannya.’ Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS. al-AVaf: 73-76)

Nabi Saleh menyeru kaumnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah SWT dan mengingatkan mereka bahwa Allah SWT telah mengeluarkan mukjizat bagi mereka, yaitu unta. Mukjizat itu sebagai bukti akan kebenaran dakwahnya. Beliau memohon kepada mereka agar mereka membiarkan unta itu memakan dari hasil bumi, dan setiap bumi adalah bumi Allah SWT. Beliau juga mengingatkan mereka agar jangan sampai mengganggunya karena yang demikian itu dikhawatirkan akan mendatangkan azab bagi mereka. Bahkan beliau mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah SWT yang turun kepada mereka: “Bagaimana Dia menjadikan mereka penguasa-penguasa yang datang setelah kaum ‘Ad, bagaimana Dia memberi mereka istana dan gunung-gunung yang terukir serta berbagai kenikmatan dan kekuatan.”

Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Saleh namun kaumnya justru menjawabnya dengan jawaban yang aneh. Mereka tidak menghiraukan nasihat Nabi mereka. Mereka menemui orang-orang yang beriman kepada Nabi Saleh. Mereka bertanya dengan pertanyaan yang tujuan untuk merendahkan dan mengejek: “Apakah kalian mengetahui bahwa Saleh seseorang yang diutus dari Tuhan­nya?” Pertanyaan ini tidak pantas dikemukakan setelah mereka melihat mukjizat unta. Alhasil, mereka merendahkan pengikut Nabi Saleh dan mengejeknya.

Sekelompok kecil yang beriman kepada Nabi Saleh berkata: “Sesungguhnya kami percaya dengan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh.” Perhatikanlah jawaban orang-orang mukmin. Jawaban terse­but sangat bertentangan dengan jawaban para pembesar dari kaum Nabi Saleh. Para pembesar itu justru meragukan kenabian Saleh sedangkan orang-orang mukmin itu menegaskan kepercayaan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh.

Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh tidak berhubungan dengan unta itu, namun berhubungan dengan dakwahnya dan ajarannya. Mereka mengatakan: “Kami mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Saleh,” dan mereka tidak mengatakan: “Kami beriman kepada untanya.” Mereka tidak mengatakan bahwa unta itu yang menetapkan kenabian Saleh. Orang-orang mukmin lebih memper­hatikan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Saleh, bukan memperhatikan mukjizat yang luar biasa itu. Melalui dialog tersebut kita dapat melihat sikap orang-orang kafir di mana mereka justru merasa mulia dengan penentangan terhadap kebenaran: “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu. “

Demikianlah penghinaan mereka, kesombongan mereka, dan kemarahan mereka. Rasa-rasanya sia-sia untuk mencari dalil yang dapat memuaskan orang-orang kafir saat berdialog dengan mereka. Mereka selalu menolak kebenaran, padahal mereka orang-orang yang merdeka dalam memilih kebenaran itu.

Malam mulai menyelimuti kota Tsamud. Gunung-gunung yang kokoh menjulang dan melindungi rumah-rumah yang terukir di dalamnya. Dinyalakanlah lampu-lampu dalam istana yang terukir di gunung itu. Gelas-gelas minuman diputarkan di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari tokoh-tokoh kaum yang tidak hadir dipertemuan penting itu. Dimulailah pertemuan dan terjadilah dia­log. Salah seorang kaflr berkata:

“Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar dalam keadaan sesat dan gila. ” (QS. al-Qamar: 24)

Sementara yang lain menjawab:

“Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. ” (OS. al-Oamar: 25)

(QS. al-Qamar: 25)

Gelas-gelas minuman kembali diputar di antara mereka, dan pembicaraan beralih dari Saleh ke unta Allah SWT. Salah seorang kafir berkata: “Jika datang musim panas, maka unta itu mendatangi lembah yang dingin sehingga binatang-binatang ternak yang lain lari darinya dan kepanasan.” Seorang kafir lagi berkata: “Jika datang musim dingin unta itu mencari tempat penghangat, lalu ia istirahat di situ sehingga binatang-binatang ternak kita lari darinya dan menuju tempat yang dingin sehingga terancam kematian.”

Gelas-gelas minuman kembali diputar dan bergoyang di tangan orang-orang yang meminum. Salah seorang yang duduk memerintahkan agar perempuan yang menyanyi berhenti dari nyanyiannya karena ia sedang berpikir. Kemudian kesunyian menghantui segala penjuru. Orang itu mulai berpikir sambil meminum dua gelas minuman keras, dan dengan suara pelan ia berkata: “Hanya ada satu cara.” Orang-orang yang duduk di sekitarnya bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya?” Tokoh mereka berkata: “Kita harus melenyapkan Saleh dari jalan kita. Yang saya maksud adalah untanya. Kita harus membunuh untanya dan setelah itu kita akan membunuh Saleh.” Demikanlah cara yang dilakukan orang-orang yang kafir sepanjang sejarah. Demikianlah senjata yang digunakan oleh mereka dalam menghadapi kebenaran. Mereka tidak menggunakan akal sehat atau adu argumentasi, tapi mereka justru menggunakan kekuatan fisik. Bagi mereka, ini adalah cara yang paling aman. Pembunuhan akan menyelesaikan masalah. Namun salah seorang di antara mereka berkata: “Bukankah Saleh mengingatkan kita akan azab yang keras jika kita sampai menyakiti unta itu.” Namun, orang-orang yang duduk di majelis itu segera memadamkan suara orang itu dengan dua gelas arak.

Kemudian percakapan dimulai tentang Saleh: “Berapakali kita putus asa dan dibuat kecewa olehnya. Sebaik-baik jalan adalah membunuhnya. Mula-mula kita membunuh untanya setelah itu kita akan menghabisi Saleh.” “Namun siapa gerangan yang berani membunuhnya?” Pertanyaan itu menciptakan keheningan di antara mereka. Setelah beberapa saat, salah seorang mereka mengangkat suara: “Saya mengenal seseorang yang dapat membunuh­nya.” Lalu nama demi nama berputar di antara mereka sehingga mereka menyebut seorang penjahat yang selalu membikin kerusakan di muka bumi dan ia suka mabuk-mabukan. Ia mempunyai kelompok penjahat di kota.

“Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakhan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. an-Naml: 48)

Mereka adalah alat-alat kejahatan. Mereka adalah penjahat-penjahat kota yang terkenal. Mereka sepakat untuk melaksanakan kejahatan. Kegelapan semakin menyelimuti gunung. Kemudian datanglah malam tragedi. Unta yang diberkati itu sedang tidur dan mendekap anaknya yang kecil di dadanya. Anaknya yang kecil itu merasakan kedinginan dan mendapatkan kehangatan di sisi ibunya. Sembilan orang penjahat tersebut telah menyiapkan senjata mereka, pedang mereka dan tombak mereka. Mereka keluar di kegelapan malam, dan pemimpin mereka banyak minum khamer sehingga ia hampir tidak melihat apa yang di depannya.

“Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.” (QS. al-Qamar: 29)

Sembilan laki-laki itu menyerang unta itu, lalu ia bangkit dan bangunlah anaknya dalam keadaan takut. Akhiranya, darah unta itu terkucur dan anaknya pun terbunuh. Nabi Saleh mengetahui apa yang terjadi, lalu beliau keluar dalam keadaan marah untuk menemui kaumnya. Beliau berkata kepada mereka: “Bukankah aku telah mengingatkan agar kalian jangan mengganggu unta itu.” Mereka menjawab: “Kami memang telah membunuhnya, maka datangkanlah siksaan kepada kami jika engkau mampu. Bukankah engkau berkata bahwa engkau termasuk utusan Tuhan.” Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:

“Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Hud: 65)

Setelah itu, Nabi Saleh meninggalkan kaumnya. Kemudian datanglah janji Allah SWT untuk menghancurkan mereka setelah tiga hari. Berlalulah tiga hari siksaan atas orang-orang kafir dan mereka menunggu-nunggu azab yang datang. Maka pada hari keempat langit terpecah melalui teriakan yang keras di mana teriakan itu menghancurkan gunung dan membinasakan apa saja yang ada di dalamnya. Kemudian bumi berguncang dan menghancurkan apa saja yang di atasnya. Itu adalah satu teriakan saja yang membuat kaum Nabi Saleh hancur berantakan. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindahan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta bertina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka, mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. ” (QS. al-Qamar: 27-31)

Mereka hancur semua sebelum mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan orang-orang yang beriman bersama Nabi Saleh, mereka telah meninggalkan tempat tersebut sehingga mereka selamat.

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

1
Comment
Mencegah Lebih Baik Dari Mengubati


Makanan adalah bahan asas untuk kehidupan dan kesihatan, namun begitu makanan juga punca kita mendapat penyakit. Kalau kita mempunyai tabiat makan yang buruk, kita sengaja mengundang penyakit.

Di zaman moden ini kita menghadapi cabaran kesihatan yang agak berat, susah untuk kita menjauhkan diri dari memakan makanan segera yang boleh membahayakan kesihatan kita. Makanan tersebut mengandungi bahan pengawet yang boleh menyebabkan penyakit seperti kanser. Kita juga selalu
makan di restoran makanan segera. Minyak yang digunakan untuk mengoreng diguna berulang-ulang kali, amalan ini sangat tidak baik untuk kesihatan.

Kita juga memakan daging dan ayam yang disuntik dengan hormon dan antibiotik. Hormon dan antibiotik ini akan berpindah ke badan kita. Bagaimana dengan sayur-sayuran dan buah-buahan? Buah-buahan dipetik sebelum masak dan dirawat menggunakan gas dan radiasi. Sayuran-sayuran disembur dengan racun serangga. Bahan-bahan kimia ini tidak akan hilang walau pun kita membasuh buah-buahan dan sayur-sayuran yang kita makan. Ini semua membahayakan kesihatan. Tidak hairanlah kalau di zaman ini ramai orang yang mengidap kanser dan lain-lain penyakit kronik.

Bagimana pula dengan air yang kita minum? Adakah ia benar-benar bersih? Kalau anda mengambil air dari paip air di dapur anda dan mengujinya, anda mungkin tidak sanggup meminumnya.

Untuk menjaga kesihatan, kita seharusnya menjauhkan diri dari perkara yang dinyatakan di atas. Kurangkan memakan makanan segera, makan daging atau ayam kampung, makan sayur-sayuran hidrofonik dan buah-buah tempatan seperti manggis, rambutan dsb (yang bebas dari gas & radiasi).

Menurut pakar pemakanan bertauliah, untuk perlindungan dari penyakit, kita perlu mengambil makanan kesihatan atau suplemen seperti vitamin, mineral, serat dan asid amino. Vitamin A, C dan E kaya dengan antioksidan yang mampu menghapuskan "radikal bebas", ia-itu molekul tidak stabil yang terhasil dari proses dalam badan kita. Dalam tubuh kita terdapat beribu billion molekul yang membentuk sel, sel membentuk tisu, tisu membentuk organ. "Radikal bebas" merosakkan molekul, dan seterusnya sel akan rosak (termasuk sel sitem imun), selepas itu tisu dan lama kelamaan akan merosakkan organ kita.

Cegahlah penyakit sebelum terlambat.

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

1
Comment
Berapa Banyak Air Yang Perlu Diminum



Ada orang kata jangan minum air banyak-banyak. Minum seteguk dua saja, ini petua untuk awet muda. Ada pendapat yang mengatakan kita perlu meminum 8 gelas sehari. Yang mana betul?

Pendapat yang pertama, memang tidak betul. Yang kedua? Tidak berapa betul! "8 gelas sehari" lebih merupakan sebagai lagenda yang telah diterima sebagai fakta.

Baru-baru ini, Jurnal Psikologi Amerika mendedahkan bahawa tidak terdapat bukti saintifik yang dapat menyokong teori "8 gelas sehari". Jangan salah faham pula. Saintis tersebut bukan mengatakan kita tidak memerlukan air. Tetapi nasihat agar kita mengambil 8 gelas air sehari bukanlah satu nasihat yang baik.

Pertama, kita perlu meminum air berulangkali di sepanjang hari. Meminum 8 gelas di waktu pagi dan mempercayai bahawa anda sudah meminum air yang cukup untuk hari tersebut adalah berbahaya.

Mereka yang meminum air, walau setengah gelas, pada setiap jam akan mendapati diri mereka begitu bertenaga.

Berapa banyak yang perlu diminum? Ianya bergantung kepada cuaca dan aktiviti yang anda jalankan. Lebih banyak anda kehilangan air, lebih banyak yang perlu diminum, lebih banyak dari 8 gelas. Tetapi jangan pula meminum terlalu banyak. Kenapa pula? Meminum terlalu banyak air boleh menyebabkan keracunan air (sekiranya menahan membuang air kecil) ataupun situasi elektrolit tak seimbang.

Peringatan: Lebih banyak anda meminum air, lebih banyak anda perlu menggantikan elektrolit anda. Di mana anda boleh memperolehi bekalan
elektrolit? Dari air minuman sukan seperti 100 Plus, Excel dll.

Nanti dulu, sebelum anda ke pasaraya untuk membeli minuman tersebut, saya ada satu petua untuk anda. Masukkan secubit garam ke dalam setiap gelen air minuman anda. Nah! Anda sudah mendapat bekalan elektrolit yang cukup. Sudah tentu pengeluar air minuman sukan tidak akan memberitahu kita mengenainya.

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

0
Comment
Zina Menurut Islam



Tulisan: Pehin Datu Seri Maharaja Dato Paduka Seri Setia Ustaz Hj Awang Abd Aziz bin Juned (Mufti Kerajaan Negara Brunei Darussalam)
 h_s4.jpg
JENAYAH zina dalam perundangan Islam berbeza dengan jenayah zina dalam perundangan sivil. Perundangan Islam menganggap bahawa setiap persetubuhan haram itu ialah zina dan dikenakan hukuman ke atas yang melakukannya sama ada oleh orang yang sudah kahwin ataupun belum kahwin. Sementara perundangan sivil pula tidak menganggap setiap persetubuhan haram itu zina. Hanya pada kebiasaannya hukuman akan dijalankan dalam bentuk yang khas dari kalangan mereka yang sudah berkahwin sahaja. Selain itu ia dianggap sebagai pencabulan kehormatan. Apabila persetubuhan itu dilakukan dengan rela hati, maka mengikut perundangan sivil, tiada hukuman dijatuhkan selagi kerelaan itu tidak mengaibkan.
Apa yang dimaksudkan oleh setengah negara dengan kerelaan yang mengaibkan itu ialah apabila orang yang disetubuhi itu tidak sampai umur 18 tahun genap. Hukuman bagi persetubuhan dengan kerelaan yang mengaibkan ini adalah ringan sahaja, kerana perlakuan itu hanya dianggap sebagai salah laku.
Undang-undang Islam menyifatkan perbuatan zina sebagai penggugat kehidupan orang ramai dan kesejahteraan mereka serta musuh yang ketat kepada keluarga, sedangkan keluarga adalah asas atau punca terdirinya sesuatu jemaah. Dengan membenarkan atau membebaskan orang-orang melakukan zina itu boleh menyebarluaskan kejahatan dan keburukan di kalangan masyarakat. Mula-mula akan menghancurkan keluarga dan akhir sekali menghancurkan ummah. Inilah yang mahu dicegah oleh Islam sebagai agama rahmat dan penyelamat sejagat.
Adapun menurut undang-undang sivil, zina dianggap urusan individu atau masalah peribadi yang tidak menyentuh individu lain, atau tidak menyentuh urusan masyarakat, kecuali dalam kes yang dinamakan pelacuran, dimana setengah-setengah negara akan mengenakan tindakan undang-undang. Kerana itu menurut undang-undang sivil tiada hukuman dikenakan kepada orang yang melakukan zina, kecuali jika tiada kerelaan ketika melakukannya.
Masyarakat Eropah dan masyarakat Barat pada umumnya rosak disebabkan zina. Akhlak yang mulia hancur disebabkan pergaulan yang tidak mengenal batasan. Anak-anak gadis di bawah umur lagi sudah sedia mengenali budaya buruk ini. Umur 15 tahun lagi ataupun lebih awal dari itu, anak-anak gadis sudah hilang dara. Tegasnya bersekedudukan sebelum kahwin adalah perkara biasa bagi masyarakat barat.
Tidak syak lagi, apabila zina telah berleluasa, maka kebajikan pun hancur dan azab siksa Allah Ta’ala mendekati semua sebagaimana hadis-hadis menjelaskan yang demikian itu :
h_s5.jpg
Maksudnya : “Daripada Maimunah Radhiallahu Anha beliau berkata : “Aku mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Umatku (ini) akan terus berada dalam kebaikan selama tidak tersebar luas anak zina di kalangan mereka. Apabila anak zina tersebar luas di kalangan mereka, maka hampir sahaja Allah ‘Azza wajalla akan menurunkan azab siksa kepada mereka seluruhnya.”
( Hadis riwayat Ahmad, baik sanadnya)
Tersebut dalam ‘kitab al-Qadha’ hadis Ibnu Umar berbunyi :
 h_s6.jpg
Maksudnya : “Apabila nyata (zahir) perzinaan maka zahir pula kefakiran dan kemiskinan.”
(Hadis riwayat al-Bazzar)
Orang-orang barat telah mengharuskan zina dan lain-lain kejahatan yang seumpama zina, sehingga kerananya kita telah menyaksikan berbagai-bagai azab diturunkan seperti AIDS, penyakit HIV dan lain-lain, yang sebahagiannya itu masih tiada ubat untuk menyembuhkannya.
Sepatutnya, kita semua perlu peka dengan keburukan-keburukan zina itu sambil memahami bahawa ia bukanlah urusan peribadi, tetapi adalah jenayah masyarakat yang amat merbahaya. Ia mestilah dibanteras bersama-sama sehingga ke akar umbinya, berdasarkan ketetapan hukum yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala mengenainya.
Dasar perundangan Islam melihat, bahawa pertemuan pada faraj di antara dua orang yang halal nikah kecuali suami isteri adalah zina hukumnya haram. Maka demikian pula bersentuhan pada yang lain dari faraj di antara keduanya dihukumkan maksiat serta berdosa. Dasar ini disebut oleh Allah dalam al-Qur’an, firmanNya :
 h_s7.jpg
Tafsirnya : “Dan mereka yang menjaga kehormatannya (yang menjaga nafsu syahwatnya daripada perbuatan zina), kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Kemudian, sesiapa yang mengingini selain daripada yang demikian, (sesiapa yang mengadakan hubungan dengan yang bukan isterinya atau hambanya) maka merekalah orang-orang yang melampaui batas.”
(Surah al-Mu’minun: 5-7)
Undang-undang Islam juga mengharamkan khalwat dengan perempuan bukan mahram. Ini dijelaskan dalam hadis Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam:
 h_s8.jpg
Maksudnya: “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan perempuan yang tidak ada bersamanya mahramnya, (kerana) sesungguhnya syaitan adalah orang ketiga bersama kedua mereka itu.”
(Hadis riwayat Ahmad)
 h_teks8.jpg
Apabila berkhalwat diharamkan, maka bersentuhan lebih-lebih lagi ianya maksiat dan haram.
Di antara beberapa kaedah pokok dalam perundangan Islam, terdapat satu kaedah yang menyatakan:
 h_s9.jpg
Ertinya: “Apa yang membawa kepada haram itu, hukumnya adalah haram.”
Jika perbuatan seseorang itu belum sampai kepada tahap zina yang membawa hukuman hadd, maka ia dikenakan ta’zir, sama ada perbuatan itu belum mencukupi syarat-syarat seperti memasukkan zakar di celah-celah paha ataupun hanya berkhalwat, berpeluk-peluk, bercium-ciuman dan lain-lain seumpamanya. Semua itu adalah haram dan dikenakan ta’zir. Ia tidak syak lagi merupakan pendahuluan zina, maksiat dan dosa besar.
Dasar pengharaman ini antara lain, firman Allah Ta’ala:
h_s10.jpg
Tafsirnya: “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kepada kerosakan).”
(Surah al-Isra’:32)
Perempuan dan lelaki yang melakukan oral seks padahal mereka itu bukan suami isteri seperti yang ditanyakan, yang berbangkit daripada keputusan sebuah mahkamah membebaskan mereka yang melakukannya, adalah pada segi syara’ ianya tiada terlepas daripada maksiat dan dosa, suatu perbuatan mendekati zina, dan mendekati zina itu hukumnya haram serta dikenakan ta’zir, dimana perkara ini tidak difahami oleh orang bukan Islam, dan mahkamah bukan Islam.
Atau yang jelas pada masa ini belum terdapat peruntukan hukum ta’zir itu bagi perbuatan oral seks. Kerana itulah sesiapa jua yang melakukannya mungkin sahaja tidak boleh didakwa atau dengan kata lain akan terlepas begitu sahaja. Namun hukum Allah tiadalah terikat dengan semua itu, sama ada ia diperuntukkan ataupun tidak. Hukum Allah itu berasaskan al-Qur’an atau hadis atau ijma’ atau apa juga kaedah usul yang disepakati oleh ulama mengenai dengan sesuatu kesalahan itu. Yang halal dan haram itu sudah jelas, hanya terpulang kepada manusia sama ada mahu mengikutnya ataupun tidak. Bagi orang-orang yang beriman mereka dikehendaki peka dengan ungkapan al-Qur’an ini:
 h_s11.jpg
Tafsirnya: “Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”
(Surah al-Ma’idah : 44)
 h_s12.jpg
Tafsirnya: “Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(Surah al-Ma’idah:45)
 h_s13.jpg
Tafsirnya: “Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang fasiq.”
(Surah al-Ma’idah: 47)
Hukum zina adalah jelas daripada al-Quran, hadis dan juga ulama telahpun sepakat mengenai pengharamannya. Bahkan ijma’ ahli-ahli agama juga, sehingga tidak ada satu agama pun yang menghalalkannya.
Firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 32:
 h_s14.jpg
Tafsirnya: “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat (yang membawa kepada kerosakan).”
FirmanNya lagi dalam surah al-Furqan ayat 68:
 h_s25.jpg
Tafsirnya : “Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan jalan hak (yang dibenarkan oleh syara’), dan tidak pula berzina; dan sesiapa melakukan yang demikian akan mendapat balasan dosanya.”
Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pula bersabda daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhuma beliau berkata :
 h_s24.jpg
Maksudnya : “Aku bertanya kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam : Apakah dosa yang paling besar di sisi Allah? Nabi bersabda : Engkau menjadikan bagi Allah sekutu (sedang) Dia yang menjadikanmu” Berkata Abdullah : “Aku berkata kepadanya (Nabi) : “Sesungguhnya perkara itu amat besar.” Berkata Abdullah :”Aku berkata : ” Kemudian apa lagi?” Bersabda Nabi : Kemudian (selepas itu) engkau membunuh anakmu kerana takut dia akan makan bersamamu (takut kepada kefakiran).” Berkata Abdullah : “Aku berkata : “Kemudian apa ?” Bersabda Nabi : “Kemudian (selepas itu) engkau berzina (dengan) isteri jiranmu.”
(Hadis riwayat Muslim)
Kejahatan dan keburukan daripada perlakuan zina memang tidak dapat dinafikan dan tidak syak lagi akan mengakibatkan berbagai-bagai kerosakan di dalam kehidupan manusia.
Daripada dalil-dalil ini dapatlah kita faham mengapa ugama Islam menetapkan hukuman yang berat terhadap orang-orang yang berzina itu. Bagi lelaki atau perempuan yang berzina yang muhshan hukumannya ialah direjam sampai mati. Manakala bagi lelaki atau perempuan yang berzina yang tidak muhshan, hukumannya disebat seratus kali dan dibuang negeri selama setahun.
Perkara ini tsabit daripada al-Quran dan hadis-hadis. Firman Allah :
 h_s23.jpg
Tafsirnya : “Perempuan dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebat ; dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum agama Allah, jika benarlah kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat ; dan hendaklah disaksikan hukuman seksa yang dikenakan kepada mereka oleh sekumpulan daripada orang-orang yang beriman.”
(Surah an-Nur : 2)
Daripada Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani berkata :
Maksudnya : “Seorang lelaki desa datang menghadap Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata : ” Wahai Rasulullah ! Atas nama Allah, saya minta kepada Tuan supaya Tuan menjatuhkan hukuman kepada saya sesuai dengan Kitabullah.” Kemudian berkata lelaki lawannya dan dia itu lebih pintar daripadanya: “Ya betul ! Putuskanlah perkara kami sesuai dengan Kitabullah dan izinkanlah saya lebih dahulu berbicara.” Bersabda Rasulullah Sallalahu ‘Alaihi Wasallam “Berbicaralah.” Katanya : “Anak lelaki saya bekerja menjadi pekerja orang ini, maka dia berzina dengan isteri orang ini dan sesungguhnya saya telah diberitahu bahawa anak saya itu harus dihukum rejam, maka saya tebus dia dengan seratus ekor kambing dan seorang sahaya perempuan. Kemudian saya bertanya kepada ahli ilmu, maka mereka mengatakan kepada saya bahawa anak saya itu dihukum sebat seratus kali dan dibuang negeri selama satu tahun, sedangkan isteri lelaki ini mendapat hukuman rejam (sampai mati). Maka bersabda Rasullullah Sallalahu ‘Alaihi Wasallam : “Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya aku akan menjatuhkan hukuman di antara kedua belah pihak sesuai dengan Kitabullah. (Tebusan) Hamba sahaya dan kambing itu ditolak dan ke atas anakmu sebat seratus kali dan dibuang negeri satu tahun. Wahai Unais ! Besok pagi pergilah engkau kepada isteri orang ini ( dan periksa apakah dia memang berzina), jika dia mengaku, maka rejamlah dia !” Berkata Abu Hurairah : Besok pagi Unais pergi kepada perempuan itu, (ternyata) dia mengaku (berzina).” Rasulullah memerintahkan supaya dihukum rejam, maka direjamlah perempuan itu.”
(Hadits riwayat Muslim)
Manakala dari Abdullah bin Abbas berkata :
h_s15a.jpg
Maksudnya : “Telah berkata Umar bin Al-Khattab dan ketika itu dia duduk di mimbar Rasulullah Sallalahu ‘Alaihi Wasallam : “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kebenaran dan menurunkan kepadaNya kitab (al-Qur’an). Di antara ayat-ayat yang diturunkan kepadanya yang kita semua telah membaca, mempelajari, dan memahamkannya ialah ayat al-Rajm (Ayat ini telah pun dimansukhkan bacaannya daripada al-Qur’an, tetapi hukumnya tiada mansukh. (Lihat at-Itqan fi ‘Ulum al-Quran 3/72). Rasulullah Sallalahu ‘Alaihi Wasallam telah melaksanakan hukuman rejam, (begitu pula) kami telah melaksanakan hukuman rejam selepas Baginda (wafat). Maka aku takut, jika semakin lama, (masa berlalu) ada orang yang berkata : “Tidak kami dapati hukuman rejam di dalam Kitabullah.” Maka mereka itu sesat kerana meninggalkan satu kefardhuan yang diturunkan oleh Allah Ta’ala. Sesungguhnya hukuman rejam yang terdapat dalam Kitab Allah ialah hak ke atas orang laki-laki dan perempuan muhshan yang berzina apabila ada saksi atau (ada bukti) seperti hamil atau pengakuan.”
(Hadis riwayat Muslim)

Adapun yang dimaksudkan dengan lelaki atau perempuan muhshan yang berzina yang wajib dihukum rejam itu ialah orang yang memenuhi syarat di bawah ini :
(i) Baligh
(ii) Berakal
(iii) Merdeka
(iv) Telah melakukan persetubuhan haram, sedang dia itu dalam pernikahan yang sah.
(Raudhah at-Thabilin 10/86 I ‘anah at-Thalibin 4/166)
Hukum rejam atau sebat kepada orang yang berzina ini tidak dilakukan kecuali apabila telah mencukupi segala rukun dan syarat-syaratnya serta tsabit itu ialah masuk kemaluan lelaki dalam kemaluan perempuan.
Walaupun perbuatan oral seks itu bukan zina, namun ia telah menghampir zina. Dan dalam keadaan seperti ini zina bila-bila masa sahaja boleh berlaku.
Zina selain salah satu dosa besar dan hukumnya juga berat, maka balasannya di akhirat pula amatlah pedih, sebagaimana riwayat hadis ini : Daripada Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, daripada Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam katanya :
 h_s16.jpg
Maksudnya : “Sesungguhnya tujuh petala langit dan tujuh petala bumi bersungguh-sungguh melaknat syeikh (lelaki dewasa) yang berzina, dan sesungguhnya kemaluan orang-orang yang berzina itu akan menyakiti penduduk neraka dengan baunya yang busuk.”
(Hadis riwayat al-Bazzar)
Bersabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam lagi :
 h_s17b.jpg
Maksudnya : “Tiga golongan pada hari kiamat yang Allah tidak akan berkata-kata kepada mereka, dan tidak membersihkan mereka dan tidak akan melihat mereka, dan bahkan bagi mereka azab yang amat pedih, (golongan itu ) ialah syeikh (lelaki dewasa) yang berzina, raja yang pembohong dan peminta-peminta yang sombong.”
(Hadis riwayat Muslim)

Balasan kerana zina itu bukan sahaja akan diterima di akhirat, bahkan ketika di dunia lagi, sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam :
Maksudnya : “Apabila zahir (nyata zina dan riba dalam sesebuah kampung, maka penduduk kampung itu telah menghalalkan untuk diri mereka sendiri azab dan siksa Allah”.
(Hadis riwayat al-Hakim dan dia berkata sahih isnadnya)
Demikian sedikit gambaran mengenai balasan terhadap orang-orang yang berzina itu, mudah-mudahan ia menjadi iktibar dan peringatan kepada orang-orang Islam, khasnya mereka yang melakukan oral seks, kerana di antara zina dan perbuatan oral seks itu tiada jauh batas sempadannya. Adapun mahkamah yang membebaskannya tanpa sebarang hukuman, sama ada kerana tida menepati tuduhan di bawah seksyen mencabul kehormatan, atau seks luar biasa, atau kerana ketiadaan peruntukan mengenainya, adalah itu semua semata-mata pekara mahkamah, tiada bererti ia menafikan keburukan oral seks itu, dan tidak bererti juga ia tidak bersetuju bahawa oral seks itu adalah perbuatan tidak bermoral yang mendatangkan dosa. Kerana dalam konteks moral semua agama selain Islam adalah sama sahaja mengagungkan moral itu. Kerana itulah, seperti juga Islam, maka tidak satu agama pun yang merestui zina, yang menghalalkan minum arak atau berjudi dan lain-lain keburukan yang sedia ditolak dan diharamkan oleh Islam.
Maka disegi Islam, keputusan mahkamah membebaskan pelaku oral seks itu adalah semata-mata perkara keduniaan. Ia tidak akan membawa apa-apa kesan kepada kedudukan hukum. Jika sekiranya sesuatu yang haram pada hukum syara’ telah diputuskan sebagai harus atau halal oleh mahkamah, maka keputusan itu sama sekali tidak akan mengubah hukum asal yang telah ditetapkan oleh syara’ itu, walau apapun alasan mengenainya. Jadi berlandaskan hukum syara’ sesiapa yang terlepas daripada hukuman mahkamah itu, tidak bermakna akan terlepas atau bebas pula daripada hukuman Allah berupa balasan azab di dunia mahupun di akhirat.

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

1
Comment
Usah biar diri jadi si Tanggang moden

Balaslah jasa ibu bapa yang tiada tandingannya membesar, mendidik kita sehingga berjaya

TANGAN yang menghayun buaian boleh menggoncang dunia. Itulah pepatah yang menggambarkan peranan ibu sehingga boleh mempengaruhi kehidupan di dunia. Didikan ibu mampu menghasilkan anak yang gah di mata masyarakat dan boleh mencorakkan dunia.
Walaupun mempunyai peranan besar, ibu sering dipinggirkan. Bukan saja peranannya dilupakan, malah ibu itu sendiri ada kalanya langsung tidak dihiraukan anak.
Segala jasa dan pengorbanan begitu mudah dinafikan sehingga ada ibu yang berendam air mata mengenangkan anak di perantauan. Benarlah kata orang tua, seorang ibu boleh melahir dan membesarkan 10 anak, tetapi 10 anak belum tentu dapat menjaga seorang ibu.

Atas alasan sibuk bekerja ada anak tidak mampu menjaga ibu yang sudah tua. Pelbagai alasan diberi bagi mengelak tanggungjawab ini. Walau setinggi manapun jawatan, kita tetap anak seorang ibu. Lazimnya, kesibukan bekerja menggoyahkan institusi keluarga serta ikatan kasih sayang antara ibu dan anak. Mempertahankan institusi keluarga penting kerana ia mempunyai impak besar kepada pembangunan negara. Jika punah institusi keluarga, hancurlah masa depan negara.

Untuk itu, Islam menggariskan tanggungjawab anak secara menyeluruh. Sejak awal anak ditegah mengeluarkan kata kesat terhadap ibu bapa. Mengherdik apatah lagi mendera orang tua adalah dosa besar.

Firman Allah bermaksud: “Dan Tuhanmu memerintahkan kamu tidak menyembah melainkan kepada-Nya semata-mata dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapa dan jika seorang atau kedua-duanya sudah tua, maka janganlah kamu berkata kepada mereka ‘Oh!’ dan jangan kamu menengking, mengherdik mereka tetapi katakanlah kepada mereka dengan perkataan mulia dan hendaklah kamu merendah diri kepada kedua-duanya kerana belas kasihan dan kasih sayang dan doakanlah: Wahai Tuhanku cucuri rahmat kepada mereka seperti mereka mencurahkan kasih sayangnya, memelihara dan mendidikku ketika kecil.” Surah al-Isra’, ayat 23-24
Ibu bapa sebenarnya mempunyai hak terhadap anak apabila mereka tidak berupaya menyara kehidupan. Begitu juga ibu atau bapa yang sakit memerlukan perhatian anak. Inilah peluang diberi Allah kepada anak bagi membalas jasa orang tua iaitu melayan dan membantu mereka pada saat getir.

Alhamdulillah saya diberi kesempatan berkhidmat kepada ibu sehingga akhir hayatnya. Beberapa hari bersama beliau amat bermakna buat saya mengajarnya kalimah syahadah dan mengingatkan beliau segala yang bakal dihadapi di alam barzakh. Ibu saya kembali ke rahmatullah pada 23 Mac lalu.

Budaya menghantar ibu bapa ke rumah jagaan orang tua bukan norma dalam masyarakat Melayu Islam. Biar apapun alasannya, tempat ibu bapa khususnya yang uzur adalah di sisi anak. Tiada apa yang dapat menandingi jasa ibu bapa membesar dan mendidik anak sehingga berjaya. Kejayaan di dunia harus dijadikan jambatan kepada kejayaan di akhirat kelak. Hakikatnya merekalah teras di sebalik setiap kejayaan anak. Ingatlah wahai anak, sementara ibu bapa masih lagi, berilah khidmat terbaik supaya kamu tidak menyesal kerana tidak berbuat demikian.

Sebelum terlambat, gunakanlah ruang dan peluang yang ada bagi menebus segala kesilapan. Tiada ibu bapa yang tidak memaafkan anak mereka. Kisah Si Tanggang yang disumpah ibunya menjadi batu kerana menderhaka cukup menjadi sempadan buat kita semua.

Namun sebenarnya, masih ramai si Tanggang moden pada masa ini. Hanya kerana mengejar kekayaan, ibu bapa langsung tidak di jenguk. Makan minum dan sakitnya tidak diambil perhatian. Setiap Muslim wajib berbakti kepada orang tuanya. Rasulullah bersabda: “Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.” (Riwayat Khatib dan Annas)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Ketahuilah olehmu bahawa baik harta, badan, mahupun jiwa ragamu adalah hak atau milik orang tuamu.” Jelaslah Islam begitu menghargai peranan ibu. Marilah sedekahkan fatihah kepada ibu yang sudah mendahului kita.

Penulis ialah Presiden Persatuan Peguam Peguam Muslim Malaysia (PPMM) dan boleh dihubungi di zainul.rijal@abubakar.my

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

0
Comment
Menangkis Kejahatan Makhluk Halus

RENUNGAN PERANAN JIN DAN SYAITAN

Jin dan syaitan adalah musuh utama bagi manusia. Permusuhan ini telah diistiharkan oleh mereka di dalam Al Quran.

Firman Allah maksudnya::

"Iblis menjawab : Sebab engkau telah menghukum saya dengan tersesat, saya akan menghalang-halangi mereka dari jalan Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (taat)." (Al-A'raaf 16-17)

Di dalam firman Allah yang bermaksud : Kami datangkan bagi setiap nabi itu syaitan dari kalangan jin dan manusia. Jin adalah satu golongan dan manusia adalah satu golongan yang lain. Kedua-dua golongan ini boleh menjadi syaitan (sifat) yang melakukan kejahatan di atas muka dunia ini. (Al-An'am 112)

MAKNA PERKATAAN JIN

Jin adalah satu nama jenis dan dalam bahasa Inggeris di sebut Ginie - perkataan tunggalnya "Jinny" yang bermaksud yang tersembunyi, yang tertutup atau yang gelap pekat.

ASAL KEJADIAN JIN

Firman Allah maksudnya:
Dan diciptakan jin dari nyalaan api.
(Ar-Rahman 15)

"Al-Maarij"
Bermaksud: Api yang sangat kuat dan sangat panas atau "Al-Lahab" iaitu jilatan api yang sudah bercampur antara satu sama lain iaitu merah, hiam, kuning dan biru.

Sesetengah pendapat: Al-Maarij itu ialah api yang bercampur warnanya dan sama maknanya dengan "As-Samuun" iaitu api yang tidak berasap tetapi sangat tinggi suhu panasnya. Angin Samuun yang telah sebati dengan Al-Maarij itulah Allah jadikan Jaan (jin).

"Dan jin itu kami ciptakan sebelum Adam dari api yang sangat panas."
(Al Hajar 27)

"Allah bertanya; Apakah yang menghalang kamu dari sujud (kepada Adam) apabila aku menyuruh kamu. Lalu iblis berkata, aku lebih baik dari Adam, kau menjadikan aku dari api dan kau menjadikannya (Adam) dari tanah.
(Al A'raf 12)


KEWUJUDAN JIN BUKAN DONGENGAN

"Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan tenang sempurnanya(; ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak) bertakwa; Iaitu orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara yang ghaib dan mendirikan (mengerjakan) sembahyang serta membelanjakan (mendermakan) sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
(Al Baqarah 2)

Demikian itu wajib kepada setiap muslim berikan dengan perkara ghaib yang tidak boleh sama sekali rasa syak dan tidak mengiktiraf kewujudan perkara ghaib termasuk jin dan syaitan.

Dalil Al Quran

Dan (ingatkanlah peristiwa) semasa Kami menghalakan satu rombongan jin datang kepadamu (wahai Muhammad) untuk mendengar Al-Quran; setelah mereka menghadiri bacaannya, berkatalah (setengahnya kepada yang lain): Diamlah kamu dengan sebulat-bulat ingatan untuk mendengarnya! Kemudian setelah selesai bacaan itu, kembalilah mereka kepada kaumnya (menyiarkan ajaran Al-Quran itu dengan) memberi peringatan dan amaran.
(Al Ah Qaf 29)

Wahai sekalian jin dan manusia! Bukanlah telah datang kepada kamu Rasul-rasul dari kalangan kamu sendiri, yang menyampaikan kepada kamu ayat-ayatKu (perintah-perintahKu) dan yang memberikan amaran kepada kamu tentang pertemuan kamu dengan hari (kiamat) ini? Mereka menjawab: Kami menjadi saksi mengakui akan (kesalahan) diri kami sendiri (mendustakan Rasul-rasul itu) dan (sebabnya ialah) mereka telah diperdayakan oleh (kemewahan) hidup di dunia dan (kerana itulah) mereka menjadi saksi (pada hari akhirat) terhadap diri mereka sendiri: (Bahawa) sesungguhnya mereka adalah orang-oang yang mengingkari (apa yang telah disampaikan oleh Rasul-rasul itu).
(Al An'am 130)

TIDAK DILIHAT BUKAN BUKTI TIDAK WUJUD

Sifat kejadian makhluk ini tidak dapat dilihat dengan mata kasar dan bukan bermakna ianya tidak ada, mari kita meihat satu contoh seperti aliran elektik tidak kelihaan pada wayar namun apabila disentuh ia akan memberikan reaksi, begitu juga dengan angin, udara, bau-bauan dan sebagainya.

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

0
Comment
Umat Islam Perlu Berjiwa Besar Bina Tamadun Sempurna

SUASANA mutakhir di Barat sepatutnya membuka hati umat Islam kepada keyakinan mutlak perlunya membina kekuatan dalam semua aspek untuk membangun tamadun menepati tuntutan Ilahi.

Kejahilan dan perpecahan menyebabkan ummah sentiasa dipermain Barat. Teriakan berbentuk retorik agama untuk membangunkan ummah patut menjadi perkara lampau. Islam dan umatnya hanya boleh dibangunkan dengan asas ilmu yang mantap dan pengikut yang faham serta yakin hanya dengan pendekatan Islam.
Pendekatan sekular yang menumpu kepada pembangunan ekonomi untuk membina peradaban manusia sudah menghasilkan kegagalan ketara kepada kebajikan manusia termasuk keunggulan ekonomi negara terbabit.
Kemiskinan yang melarat, pengagihan kekayaan tidak seimbang, keruntuhan institusi keluarga, akhlak, alam sekitar dan pelbagai masalah kemanusiaan patut membuka hati semoga pendekatan alternatif untuk membina peradaban manusia perlu diusaha segera.

Pendekatan membina kemajuan masyarakat dan negara melalui pencapaian pertumbuhan ekonomi jelas mempamerkan, walaupun pertumbuhan ekonomi tercapai masalah lain seperti kemiskinan, pengangguran dan hutang turut mencatat angka membimbangkan.

Contohnya, hutang ekonomi negara maju kini semakin meruncing. Beban hutang sektor awam Amerika Syarikat pada 2010 melebihi AS$14 trilion, meningkat 72 peratus daripada lima tahun lalu. Jumlah ini tidak termasuk hutang sektor swasta yang lebih besar lagi.

Jepun turut mencatat hutang dua kali ganda ekonominya iaitu AS$5 trillion. Mengikut John Lipsky dari Tabung Kewangan Antarabangsa (IMF), nisbah purata hutang negara maju akan melebihi 100 peratus Keluaran Dalam Negara Kasar tahun ini sejak peperangan dunia lalu.
Keadaan ini akan menempah krisis fiskal yang ketara pada masa depan. Jika dasar fiskal sukar untuk berperanan dengan baik dalam menyusun ekonomi negara, cuba bayangkan apa akan jadi kepada ekonomi negara itu. Persoalan perlu umat Islam ambil iktibar ialah pendekatan Barat yang kita sanjungi tidak boleh lagi dijadikan panduan. Di samping itu, pendekatan dikatakan menurut kehendak syariah juga perlu kepada pengkajian semula.

Pelaksanaannya yang bersifat ‘literal’ tidak menghasilkan natijah berkesan ke arah pencapaian matlamat syariah. Matlamat pelaksanaan mengikut kehendak syariah ialah untuk membina peradaban manusia bukan hanya membicara hal serpihan. Justeru, pendekatan yang bagaimana mampu membawa kebajikan dan kesejahteraan menyeluruh kepada kehidupan manusia keseluruhannya.

Untuk membina peradaban ummah yang kuat bersesuaian suasana semasa, panduan agama yang tepat, sempurna dan menyeluruh berpandukan semangat al-Quran dan al-Sunnah wajib diketengahkan secara terperinci serta realistik keadaan dan tempat.

Ini memerlukan ilmuwan Muslim menguasai ilmu al-Quran dan hadis serta memahami perjalanan sistem hidup semasa untuk membimbing kemajuan ummah.

Keadilan sosial bernegara mengikut Islam dapat difahami sebagai suasana apabila sektor awam dalam negara pada asasnya dapat menyedia keperluan hidup asasi rakyat dengan pembinaan keimanan individu Muslim melalui sistem pendidikan.

Menaikkan taraf daya kemahiran hidup untuk semua lapisan masyarakat, memberi kebebasan dan jaminan perundangan, memberi jaminan untuk menentu atau berusaha bersama dalam kegiatan ekonomi dan berusaha membina tamadun utuh untuk generasi masa depan.

Dengan kata lain pendekatan kepada amalan perniagaan adalah untuk memberi kesejahteraan dan kebajikan kepada seluruh masyarakat. Pendekatan ini memerlukan amalan ikhlas dan kecekapan dalam urusan perniagaan. Abad ke-21 ini adalah era pertembungan tamadun. Justeru, untuk umat Islam menonjol dan menjadi ikutan, perlu berjiwa besar dan jujur membentuk kemajuan ke arah membina sebuah tamadun sempurna dan mulia.

Penulis ialah Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM)


Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

0
Comment
Salman Al-Farisi Radhiallaahu ‘Anhu

Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu’min yang tidak sedikit jumlahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang kedalam ilmu pengetahuan dan ilmuan dan keagamaan, maupun keduniaan.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah filosof-filosof Islam, dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam .

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.

Salman radhiyallahu ‘anhu sendiri turut menvaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan vang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam — yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimim sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah nakh sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)

Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu!’ Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu ‘anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman radhiyallahu ‘anhu tersebut.

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka … dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit …

Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu ‘anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu ‘anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman radhiyallahu ‘anhu seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman radhiyallahu ‘anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu ‘anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti….

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. “Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah”, kata Salman radhiyallahu ‘anhu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:

Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai hunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir sabdanya:

Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru:
Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya …. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Salman radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramalan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Ia berdiri di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan, dilihat bahkan dialami dan dirasakannya sendiri. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan’a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah Allah ….Nah, itulah dia sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di muka rumahnya di kota Madain; sedang menceriterakan kepada shahabat-shahabatnya perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk ke dalam agama Nashrani dan dari sana pindah ke dalam Agama Islam. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan fikiran dan jiwanya .. .! Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan iman kepadanya …!

Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya!
“Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama “Ji”. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: “Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!” Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. “Dari Syria”,ujar mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: “Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita”. Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku ….

Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai. Lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar, Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ….dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu dari padanya.

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: “Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi. “Anakku!”, ujamya: “tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul”.

Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan ku ceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di ‘Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.

Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya: “Anakku.’ Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah he suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, la mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya’:

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?” “Baiklah”, ujar mereka.

Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.

Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani ‘Amar bin ‘Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya:

“Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: “Apa kata anda?” Ada berita apakah?” Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: “Apa urusanmu dengan ini, ayoh kembali ke pekerjaanmu!” Maka aku pun kembalilah bekerja …

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: “Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedeqah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini”. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.

“Makanlah dengan nama Allah”. sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. “Nah, demi Allah!” kataku dalam hati, inilah satu dari tanda-tandanya … bahwa ia tah mau memakan harta sedeqah’:

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: “Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah”, lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shahabatnya: ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah ! ‘ Dan beliaupun turut makan bersama mereka. “Demi Allah’: kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah ‘:

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kutemui beliau di Baqi’, sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap henabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu.

Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:’Mintalah pada majihanmu agar ia bersedia membebashanmu dengan menerima uang tebusan.”

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya.

Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman radhiyallahu ‘anhu menceriterakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta’ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya ….

Corak manusia ulung manakah orang ini? Dan keunggulan besar manakah yang mendesak jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan membuatnya mungkin barang yang kelihatan mustahil? Kehausan dan kegandrungan terhadap kebenaran manakah yang telah menyebabkan pemiliknya rela meninggalkan kampung halaman berikut harta benda dan segala macam kesenangan, lalu pergi menempuh daerah yang belum dikenal — dengan segala halangan dan beban penderitaan — pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tak kenal letih atau lelah, di samping tak lupa beribadah secara tekun …?

Sementara pandangannya yang tajam selalu mengawasi manusia, menyelidiki kehidupan dan aliran mereka yang berbeda, sedang tujuannya yang utama tak pernah beranjak dari semula, yang tiada lain hanya mencari kebenaran. Begitu pun pengurbanan mulia yang dibaktikannya demi mencapai hidayah Allah, sampai ia diperjual belikan sebagai budak belian …Dan akhirnya ia diberi Allah ganjaran setimpal hingga dipertemukan dengan al-Haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya, lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara ummat Islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, dengan kemakmuran dan keadilan.. .!

Bagaimana akhir kesudahan yang dapat kita harapkan dari seorang tokoh yang tulus hati dan keras kemauannya demikian rupa? Sungguh, keislaman Salman radhiyallahu ‘anhu adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khatthab.

Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman radhiyallahu ‘anhu melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu.

Pada suatu hari Salman radhiyallahu ‘anhu bermaksud hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnat esok hari. Dia menyalahkannya: “Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena Allah?” Maka jawab Salman radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan di samping melakukan shalat, tidurlah!”

Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya: Sungguh Salman radhiyallahu ‘anhu telah dipenuhi dengan ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman radhiyallahu ‘anhu serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama berdiri dan berkata: “Salman radhiyallahu ‘anhu dari golongan kami”. Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka: “Tidak, ia dari golongan kami!” Mereka pun dipanggil oleh Rasurullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sabdanya: Salman adalah golongan kami, ahlul Bait.

Dan memang selayaknyalah jika Salman radhiyallahu ‘anhu mendapat kehormatan seperti itu …!
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menggelari Salman radhiyallahu ‘anhu dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”.

Dalam kalbu para shahabat umumnya, pribadii Salman radhiyallahu ‘anhu telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyambutan yang setahu kita belum penah dilakukannya kepada siapa pun juga. Dikumpulkannya para shahabat dan mengajak mereka: “Marilah kita pergi menyambut Salman radhiyallahu ‘anhu!” Lalu ia keluar bersama mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya …

Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan iman kepadanya, Salman radhiyallahu ‘anhu hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu; kemudian di masa Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu; lalu di masa Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, di waktu mana ia kembali ke hadlirat Tuhannya.

Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam, hingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara hukum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun bertumpuk dan jabatan tambah meningkat.

Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman radhiyallahu ‘anhu? Di manakah kita dapat menjumpainya di saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu …?

Bukalah mata anda dengan baik! Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya di samping berbakti untuk negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang.

Nah, itulah dia Salman radhiyallahu ‘anhu Perhatikanlah lagi dengan cermat! Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun. Tapi semua itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya: “Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham.

Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!”

Lalu bagaimana wahai ummat Rasulullah? Betapa wahai peri kemanusiaan, di mana saja dan kapan saja? Ketika mendengar sebagian shahabat dan kehidupannya yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhum dan lain-lain; sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana seorang Arab hanya dapat menutupi keperluan dirinya secara bersahaja.

Tetapi sekarang kita berhadapan dengan seorang putera Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros, sedang ia bukan dari golongan miskin atau bawahan, tapi dari golongan berpunya dan kelas tinggi. Kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan; bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri.. .? kenapa ditolaknya pangkat dan tak bersedia menerimanya?

Katanya: “Seandainya kamu masih mampu makan tanah asal tak membawahi dua orang manusia –, maka lakukanlah!” Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan, kecuali jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Atau dalam suasana tiada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab kecuali dia, hingga terpaksa ia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih? Lalu kenapa ketika memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan padanya secara halal?

Diriwayatkan eleh Hisyam bin Hisan dari Hasan: “Tunjangan Salman radhiyallahu ‘anhu sebanyak lima ribu setahun, (gambaran kesederhanaannya) ketika ia berpidato di hadapan tigapuluh ribu orang separuh baju luarnya (aba’ah) dijadikan alas duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafqahnya dari hasil usaha kedua tangannya”.

Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan amat zuhud kepada dunia, padahal ia seorang putera Persi yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi lagi Maha Pengasih.

Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman radhiyallahu ‘anhu menangis. “Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah”,’) tanya Sa’ad, “padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridla kepada anda?” “Demi Allah, ujar Salman radhiyallahu ‘anhu, “daku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabdanya:
Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara, padahal harta milikku begini banyaknya”

Kata Sa’ad: “Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: “Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu!” Maka ujamya: “Wahai Sa’ad!

Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita.
Dan pada putusanmu jika kamu menghukumi.
Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian”.

Rupanya inilah yang telah mengisi kalbu Salman radhiyallahu ‘anhu mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya; yaitu pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya dan kepada semua shahabatnya, agar mereha tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara.

Salman radhiyallahu ‘anhu telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudlu .:., tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros …. Nah, bukankah telah kami ceritakan kepada anda bahwa ia mirip sekali dengan Umar?

Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya tak sedikit pun berubah. Sebagai telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya.

Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya. Demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan Salman radhiyallahu ‘anhu menurut dengan patuh. “Tolong bawakan barangku ini!”, kata orang dari Syria itu. Maka barang itu pun dipikullah oleh Salman radhiyallahu ‘anhu, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman radhiyallahu ‘anhu memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti: “Juga kepada amir, kami ucapkan salam” “Juga kepada amir?” Amir mana yang mereka maksudkan?” tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman radhiyallahu ‘anhu dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: “Berikanlah kepada kami wahai amir!”

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman radhiyallahu ‘anhu menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala: “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!

Suatu ketika Salman radhiyallahu ‘anhu pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai amir? Jawabnya: “Karena manis wahtu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!”

Pada waktu yang lain, seorang shahabat memasuki rumah Salman radhiyallahu ‘anhu, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya shahabat itu: Ke mana pelayan? Ujarnya: “Saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus”

Apa sebenarnya yang kita sebut “rumah” itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana keadaan rumah itu yang sebenamya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai “rumah” itu, Salman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada tukangnya: “Bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan?” Kebetulan tukang bangunan ini seorang ‘arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman radhiyallahu ‘anhu dan sifatnya yang tak suka bermewah mewah. Maka ujarnya: “Jangan anda khawatir! rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan terantuk pada dindingnya”. “Benar”, ujar Salman radhiyallahu ‘anhu, “seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun!”

Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman radhiyallahu ‘anhu sedikit pun, kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.

Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggillah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikacau dengan tangannya, lalu kata Salman radhiyallahu ‘anhu kepada isterinya: “Percikkanlah air ini ke sekelilingku … Sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah’) yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya: “Tutupkanlah pintu dan turunlah!” Perintah itu pun diturut oleh isterinya.

Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh barkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya … Ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dengan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tolroh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama ….

Salman radhiyallahu ‘anhu …. Lamalah sudah terobati hati rindunya Terasa puas, hapus haus hilang dahaga. Semoga Ridla dan Rahmat Allah menyertainya.
1) yang dimaksud makhluq Allah di sini, Malaikat.

Sumber : Cahaya Pencerahan

Sila tinggalkan komen anda selepas membaca........ Terima Kasih.......

 
Powered by Blogger